Waktu berlalu, seiring dengan kesibukan yang lain, pohon Rosella yang tak tumbuh tak terpikirkan lagi, tak lagi menengok pekarangan yang bertabur biji rosella. Suatu hari pak Udin, tukang kebunku bilang, kalau tanaman rosellanya sudah numbuh dan banyak sekali. Oh iya? pikirku sambil segera menuju ke kebun. Wah iya, benar benar telah tumbuh taneman kecil-kecil sekarang, masih setinggi 3 sampai 4 cm. Butuh berapa lama lagi ya untuk menikmati bunganya. Pasti nanti akan tampak kebunku bertabur warna merah Rosella. Tak sabar menanti harinya.
Sebulan berlalu, berganti bulan berikutnya, hampir tiga bulan terlewati. Bunga Rosella mulai nampak dari ruas-ruas batangnya. Satu kupetik dan kukunyah, uh... asem sekali, kali aja enak untuk campuran sayur asem pengganti belimbing. Iya, kali aja enak yah?
Akhirnya dari semua pohon yang ada, hampir semua sudah memunculkan bunga merahnya. Cantik sekali kebunku saat ini. Dan kini saatnya kupetik semua. Mau diapakan ya, kalau tidak salah, selain dikeringkan untuk dibuat teh, bisa juga dibuat minuman, atau puding. Tapi kali ini akan kucoba membuat rujak Rosella. Enak nggak ya?
Cobek, cabe rawit, garam dan gula merah telah siap. untuk asemnya..., dengan bunga Rosella saja sudah cukup. Iya benar, dengan Rosella rasa asemnya sudah terasa. Ditumbuk-tumbuk tidak hancur, sambal rujaknya siap dicampur dengan buah lainnya, cuma sambal rujak Rosella ini agak berlendir. Tapi rasanya... tetep seger. Mau coba?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar